Setelah sempat menginjak kisaran 1350 USD per troy
ons pada awal pekan, harga Emas Futures merosot tajam hingga mencapai
1329.6 USD per troy ons per awal sesi perdagangan Asia hari Rabu ini
(21/Februari). Gold Spot XAU/USD juga merosot 0.25% dalam perdagangan
intraday ke 1325.95, setelah mencatatkan penurunan terparah dalam
setahun di hari Selasa. Harga Emas Antam pun kembali mencatatkan
penurunan ke Rp637,000 dari Rp643,000 pada hari Senin, dengan patokan
buyback turun ke Rp567,000 per gram. Penurunan harga
emas kali ini berhubungan dengan pemulihan bertahap pasar
modal global, serta penguatan Dolar AS.
Peralihan Sentimen Pasar
Pekan lalu, harga Emas meningkat
cukup pesat menyusul rilis data inflasi Amerika Serikat.
Pembelian Emas meningkat, khususnya dari kalangan investor yang
mencari aset pelindung nilai guna menanggulangi peningkatan inflasi
yang lebih cepat dibanding ekspektasi. Namun demikian, harga Emas
kembali terguling pekan ini karena peralihan sentimen pasar.
Pasar modal global yang mengalami guncangan cukup besar di awal bulan Februari, menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Indeks saham terkemuka seperti Dow Jones Index, S&P 500, Nikkei 225, dan DAX, telah beranjak naik dari level rendah yang tersentuh saat gejolak tersebut. Oleh karenanya, investor kembali mencari aset-aset berisiko seperti saham, sedangkan kebutuhan akan Emas sebagai aset Safe Haven menyusut.
Di sisi lain, nilai Dolar AS kembali merangkak
naik dari level terendah dua tahun tempatnya ditekan sejak awal tahun
ini. Dalam perdagangan intraday, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur
kekuatannya versus sejumlah mata uang mayor, telah meningkat 0.10% ke
89.82, setelah naik beruntun sejak tiga hari sebelumnya.
Jangka Panjang Tetap Meningkat
Peter Hug, direktur perdagangan global di Kitco
Metals Inc, mengatakan bahwa pengalihan fokus ke utang AS dari
belanja infrastruktur, pemangkasan pajak, dan pelemahan dolar mendorong kenaikan yield obligasi. Dinamika ini membebani logam
mulia, yang termasuk aset dengan imbal hasil bukan dalam bentuk bunga
(Non-Yielding Asset).
"Dalam jangka pendek, saya kira ada sejumlah masalah likuiditas (bagi Emas)," katanya, "Suku bunga lebih tinggi telah mengarah pada penguatan Dolar, hal mana sudah lama negatif bagi Emas, dan investor mulai meninggalkan pasar Emas."
Hug juga menyampaikan pada MarketWatch bahwa kurangnya partisipan di pasar, lantaran banyak pembeli di Asia masih libur Lunar New Year, turut mengakibatkan harga Emas menurun. Namun demikian, dalam jangka panjang, ia menilai ada kemungkinan bank sentral AS (Federal Reserve/FED) akan salah langkah dalam penetapan kebijakan suku bunganya, sehingga bisa mendorong harga Emas meningkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar